TakaTalk, TakaTekno

Ide: Air Traffic Control (ATC) Buat Para Pengguna Drone

“Just Idea:

Aplikasi atau program apapun yg dapat mengatur lalu lintas drone di udara…

Ke depannya, kehadiran drone sudah tak terelakkan”

Begitu bunyi dari chat paman saya, Om Arief. Hmm, menarik! Para penggemar dan pengguna drone semakin banyak dan populer. “Maka dari itu harus ada sebuah sistem navigasi yang secara otomatis mandiri mengatur lalu lintas drone,” lanjutnya.

Di Minggu pagi itu, dari percakapan yang singkat tersebut muncullah satu ide segar yang ingin saya bahas di sini. Oh, ya- Selamat datang kembali di Takatik!

Teknologi Baru, Kekhawatiran Baru

Contoh salah satu drone di pasaran

Pesawat tanpa awak (Drone/UAV – Unmanned Aerial Vehicle) yang dikendalikan dari jarak jauh, sebenarnya teknologi yang lama di dunia militer dan penerbangan. Jika dirunut sejarahnya dari jauh, di tahun 1849 Austria sudah mencoba mengirim balon udara berisi bom untuk menyerang Venesia. Sedangkan drone bermesin pertama ada di Perang Dunia pertama buatan A.M. Low, “Aerial Target”. Bahkan Nikola Tesla yang terkenal, pada tahun 1915 sudah mendeskripsikan armada pesawat tanpa awak akan seperti apa jadinya.

Salah satu contoh hasil fotografi dengan menggunakan drone. Dengan adanya drone, kita bisa mengakses dan memotret tempat tempat dari angle yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Fast forward ke 2018, walaupun termasuk baru di ranah masyarakat, drone sudah menjadi teknologi yang tidak jarang lagi. Mau beli? Gampang. Di berbagai toko dan e-commerce terpampang jelas berbagai macam jenis drone dengan variasi harga, tipe dan kegunaannya. Dari yang sekadar untuk terbang, fotografi, sampai yang buat balapan juga ada! Drone racing sendiri sudah ada lho di Indonesia!

Kehadiran drone ini, selain bermanfaat, juga menjadi kekhawatiran baru. Bahkan di beberapa tempat sudah muncul masalah. Sebagai contoh, pada Januari 2015 lalu sebuah drone jatuh di White House Amerika Serikat. Di New York, sebuah drone menghantam muka seorang fotografer dan memotong ujung hidung dan dagunya. Juli 2014, di Bandara Heathrow, London sebuah drone nyaris menghantam pesawat Airbus A320 yang sedang Take Off. Civil Aviation Authority (CAA) menyebutnya “sangat beresiko bertabrakan”.

Masih ada banyak insiden drone lainnya yang bisa kalian baca, yang sakin semakin banyaknya, membuat Federal Aviation Adminstration (FAA – Badan Penerbangan Federal Amerika Serikat) membenci drone.

Pada tahun 2020 di Amerika saja diperkirakan akan ada 7 juta drone mengudara. Kebayang kan, sebesar apa masalah dan musibah yang bisa disebabkan oleh hal sekecil drone ini?

Rincian Ide Om Arief

Om Arif Hartanto. Klik Fotonya untuk mengunjungi profil Facebooknya

Di Minggu pagi yang masih ngantuk itu, Om Arief mengutarakan idenya melalui chat di Whatsapp. Oh, ya! Saya kenalin dulu deh Om Arif. Paman saya yang berdomisili di Semarang ini pernah lama bekerja Indofood sebagai operator, dan kini menjadi owner usaha Rumah Organik. Orangnya baik, asik, dan nggak habis ide. Salah satunya yang kita bahas ini.

Sebenarnya kalau kita runut melalui percakapan WA kami, bakal panjang. Yaudah deh, saya jelaskan poin-poinnya di sini:

  • Tujuan: Buat aplikasi yang bisa menuntun pilot drone agar tidak bertabrakan dengan drone lain atau lingkungan sekitarnya
  • Setelah aplikasi terpasang, aplikasi akan merekam GPS drone ke dalam peta navigasi aplikasi (layaknya Google Map) , sehingga semua pilot yang menggunakan aplikasi ini tahu siapa dan di mana saja yang sedang mengudara. Selain itu, juga ditampilkan apa dan ke mana tujuan terbang setiap drone yang terbang, serta segala aktifitasnya. Jadi setiap pilot juga diberi akses untuk mencantumkan tujuan/maksud terbang dan rute terbang drone miliknya.
  • Bahkan di peta navigasi aplikasi itu juga bakal ditampilkan area area yang ramah/Terlarang untuk drone, sedang ada event drone apa saja, dll. Para pilot, komunitas bahkan pemerintah setempat juga bisa berkontribusi memberikan informasi tersebut.
  • Salah satu ide pertama Om Arief adalah Auto-Pilot drone. Nah, berhubung saya belum pernah nyoba drone, saya tidak tahu apakah fitur ini sudah ada di drone yang ada di pasaran (please do let me know, yah!) . Auto-Pilot ini bakal aktif jika dalam keadaan tertentu, atau darurat. Misal, Drone kejauhan dan out of range (keluar jangkauan kontrol). Karena aplikasi sudah terpasang di kontroler dan drone tersebut, ia akan otomatis Auto pilot, entah itu kembali ke tempat awal take-off, atau landing darurat di tempat terdekat yang aman dari manusia.
  • Jadi, harus dirancang Aplikasi yang kalau dipasang langsung sepaket – terpasang di kontroler (remote atau hp) dan terpasang secara tambahan di drone. Yang ini juga secara teknis kami belum tahu, hehehe.

Jadi intinya, kita ingin ada sebuah aplikasi yang menjadi semacam Air Traffic Controller untuk para pengguna drone yang lagi ngetren ini.

Ilustrasi

Ini baru sekadar ide, belum ada rencana untuk realisasi ke pembuatan aplikasi tersebut. Kami berdua tidak ada background programming maupun engineering, tapi sangat tertarik dengan gagasan ini. Kami bahkan belum sempat menamai project atau nama aplikasi yang belum jadi ini, monggo kalau mau kasih ide, ya!

Setelah saya browsing sebentar, ternyata ini bukan ide yang pertama kalinya! Parimal Kopardekar, principal investigator di NASA for unmanned aerial systems traffic management mengungkapkan ide yang sama, dengan rencana menyelesaikan penelitan di tahun 2019, dan penyerahan ide ke FAA untuk diimplementasikan pada tahun 2025.

Jadi, siapa ya kira-kira yang bakal duluan? Kita tunggu kisah selanjutnya di Takatik – Informasi Utak-atik!

 

Sumber dan referensi:

Wikipedia, Techrepublic, Los Angeles Times

You Might Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>